ternyata aku salah…

Ketika sesaat lagi aku pikir semua akan baik-baik saja
Ketika kupikir tirai kelabu itu akan tersingkap
Ketika kupikir hidup ini juga berisi matahari,
Ketika kupikir sesak yang ada akan menghilang,
ternyata aku salah

Aku sangat menyesali kondisi yang aku dan keluargaku alami
Kami sangat tidak cocok. Perkelahian dan adu mulut adalah santapan sehari-hari
Tapi aku tidak ingin hal ini, aku tidak menginginkan rasa berat dan kepenatan ini
aku tidak ingin ada yang merasa sakit, terlebih diriku sendiri

Aku tidak bisa memenuhi keinginan mereka. aku kasihan, dan sayang sekali pada mereka
tapi aku sendiri tidak sangggup jika harus memenuhi segala yang mereka inginkan dan mengikuti jalan pikiran mereka
Segala yang kusukai, tidak mereka terima. Bagi mereka, aku aneh dan aneh dan aneh dan menyusahkan

Apa-apa yang mereka sukai, tidak aku senangi. Aku selalu berusaha menghindar dari apa yang mereka suka, karena aku tidak suka
Bagiku, apa yang mereka sukai itu jahat, tidak sensitif, pemborosan, dan melelahkan

Selama aku tinggal bersama mereka, yang paling berkesan adalah rasa sakit yang mereka timbulkan, Saat rasa sakit dari masa kecilku belum sembuh, mereka terus menempanya dengan rasa sakit yang baru. Dulu, aku masih sering kecewa terhadap mereka, tetapi sekarang tidak lagi. Aku telah kehilangan ekspektasi. Aku membenci mereka.

Bagaimana? Bagaimana bicara pada mereka? Bagaimana membuat mereka mengerti dan jelas mengenai apa yang kupikirkan, mengenai seperti apa aku melihat dunia ini? Mereka terus memaksakan pandangan mereka kepadaku, aku tidak bisa!!! Tidak bisa!!!!!

Aku punya pikirnaku sendiri. Aku seorang manusia, bukan cuma anak mereka! Aku MANUSIA!!! Tidak bisakah mereka menghargai itu sedikit saja? Jangan memaklumi, jangan memperlakukanku seperti anak kemarin sore, aku berhak untuk dihargai, aku berhak untuk didengarkan apa-apa yang menajadi pandanganku. Aku ini SESEORANG!!!

Kalau seperti ini terus, bagaimana aku jadi tidak membenci mereka? Aku bukan seorang malaikat. Aku berhak merasa sedih dan sakit saat aku merasa disakiti. Mereka bahkan melarangku untuk merasa sakit saat aku disakiti. Dahulu aku sering menangis diam-diam setelah mereka menyakitiku. Aku terbiasa menangis tertahan, dan sesenggukan sambil menutupi wajahku dengan bantal.

Sampai sekarang pun masih.

Sebab kalau mereka tahu, mereka akan semakin marah, semakin menumpahkan rasa benci padaku, menumpahkan segala emosi jahat yang menyesakkan. Perasaan yang sampai sekarang membuat aku sedih, khawatir, gelisah, dan takut saat bersama mereka. Aku sebenarnya ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa aku sangat membenci mereka, karena mereka sering menyakiti aku.

Aku sedih, lelah, marah benci…

Comments (3)

Cincin

Lelah
Lelah sekali

Mengurus dan memikirkan ini itu yang tak kuinginkan dan tak kurasa kubutuhkan hanya demi menghormati dan menjaga perasaan dan menjaga hubungan

Hari ini berangkat pagi untuk ambil pesanan cincin di Cikini
Berangkat jam delapan kurang agar sampai di stasiun jam delapan agar sampai di Cikini jam sembilan agar sampai di kantor jam sepuluh

Sampai jam delapan di stasiun kereta tiba jam delapan empat lima. Sampai Cikini jam sembilan tokonya masih tutup dan baru buka jam sepuluh

Sambari menunggu nongkrong di McD makan McFlurry nemu staples didalamnya dan hampir tertelan. Mau protes malas, dan kasihan. Karyawan McD khan manusia juga. Wajar ada kesalahan. Gaji mereka juga mungkin gak seberapa. Kasihan kalau dapat teguran.

Sambil nongkrong terus mikir. Capek ya begini. Apa sih yang sebenarnya aku lakukan? Untuk apa aku ada disitu sekarang? Untuk apa sebenarnya cincin yang sedang kutunggu itu sampai-sampai rela ijin dari kantor di tengah deadline yang menumpuk, rela berpanas-panas nunggu bis, rela spare some of my time, rela aja muter-muter di sekitar toko mas karena udah gak sabaran nunggu di McD

Jam sepuluh teng si pemilik toko datang. Telat karena mesti antar anak dulu ke sekolah yang masuknya jam setengah sepuluh. Meski terpampang tulisan toko buka jam sembilan pagi sampai jam lima sore, mereka tidak pernah lagi buka sesuai jam tersebut. Sejak keadaan sepi dan gak ada orang lagi yang mengurus, mereka cenderung buka semakin siang. Begitu penjelasan si ibu saat bertatap muka denganku

Gak papa kok. Bagiku tak masalah. Bukan salah mereka aku jadi menunggu. Toh, aku memang tidak memastikan terlebih dahulu kalau mereka akan datang jam sembilan pagi. Aku percaya pada pengumuman yang tertempel di areal toko mas itu dan lupa bahwa di Indonesia, lebih banyak aturan tertulis tidak berjalan dibandingkan aturan lisan (istilahnya: lu tahu, gue tahu, kita sama tahu). Siapa saja bisa bikin aturan lisan semau mereka. dan mungkin itulah enaknya jadi wiraswasta. Iri aku sama mereka…

Setelah terima cincin, mengucapkan terimakasih, bayar, menerima kembalian yang kelebihan dua ribu limaratus rupiah, aku langsung melaju dan berjalan menuju pemberhentian bis, naik bis dan duduk bengong sampai Blok M dan naik lagi menuju kantor dan jalan kaki dan sampai di kantor

———–

setelah sampai di kantor,
setelah bersih-bersih,
setelah minum segelas air,
setelah merasakan kesejukan ruangan,
setelah duduk dan menyalakan komputer,
setelah browsing beberapa situs,
setelah membaca beberapa email,
setelah mengetik sekian kalimat,

pikiranku terus tertuju pada cincin yang sekarang tersimpan rapi pada kotaknya di dalam tas punggungku di lantai di sebelah kananku

sebuah cincin sederhana, tanpa hiasan, tanpa tekstur, tanpa permata
sebuah cincin bulat polos, berwarna putih buram dengan pinggiran berwarna emas

walau sangat sederhana
ada desakan keinginan yang kuat dalam pikiranku
aku ingin memakai cincin itu
aku ingin segera melihatnya melingkar di jariku
aku ingin membiarkan semua orang di dunia ini melihat sebentuk lingkaran itu terselip di sela jariku
aku ingin semua makhluk hidup yang ada menyadari benda bulat ini ternyata bukan hanya sebentuk benda mati yang merepotkan dan manghabiskan banyak uang

cincin ini penting
cincin ini ada artinya
cincin ini menandakan sesuatu

suatu janji
suatu sumpah
suatu kepercayaan
suatu ikatan
suatu tanggung jawab
suatu kebahagiaan
suatu kehidupan

aku tak sabar ingin mengenakannya…

Comments (3)

ngalur-ngidul…

Siang menjelang sore ini kepalaku pusing sekali…
Perutku terasa sangat mual…mungkin juga karena dua gelas nescafe pekat yang kuminum tadi..
Mungkin aku mabuk kopi…
Mungkin aku gelisah…
Mungkin aku cemas…
Dan aku khawatir…

Aku sering berpikir untuk menghentikan kebiasaanku mencemaskan segala sesuatu sampai sekecil-kecilnya…
Selalu khawatir, selalu tidak tenang, selalu ketakutan…dan yang menyebalkan (mungkin bagi orang lain)…selalu mengeluh…

Anyway, i have just finish browsing to some of my friends blogs…
It is always exciting doing it, getting to know what they’ve intend to told people (of course, I also intend this writing to be read by anybody wanted to), and have the chance to find out what they do and think..

I found that some of the person I know were pretty much different from what they’ have written. It’s amaze me how people can emerge into someone else through intensive writing…

Get what I mean?

Gosh!!! This headache!!!

I want a long sleep…

Comments (2)

Next entries »