Nasi Megono

Tumpeng_megonoNasi Megono made in Mandungan, Jogja. Setahuku biasanya nasi megono itu makanan Sunda, tau bener tau enggak…dan biasanya nasi dimakan semacam taburan daging yang sudah diolah, ditambah sayur seperti bayam (aku gak tahu namanya apa)..dan apa lagi yah?..yang jelas rasanya enak..

Nasi_megono_1Nah nasi Megono ini dibikin Ibu-ibu di dusun Mandungan, Jogja, saat ikut lomba masak makanan organik. Nasi Megono ini tidak menang. Tapi menurut saya, rasanya..mmm…super enak..!!! Terutama buat yang suka makanan asin..

Nasi ini dibuat dalam bentuk tumpeng, dan sudah ada isinya. Maksudnya, nasinya sudah diisi bermacam bahan. Nasi ini dicampur dengan ikan teri, potongan wortel, kacang polong, dan beberapenyedap seperti pete. Pete yang ditambahkan menambah aroma khas yang kuat, yang justru menambah kesedapan nasi Megono ini.

Duh, sayang gak bisa lagi mencicipi makanan ini…

Comments (1)

Do It Anyway

Images_1People are often unreasonable,
Illogical, and self-centered;
Forgive them anyway

If you are kind,
People may accuse you self selfish,
Ulterior motives;
Be kind anyway

If you are succesful,
You will wind some false friend and some true enemies;
Succeed anyway

If you are honest and frank,
People may cheat you;
Be honest and frank anyway

What you spend years building,
Someone could destroy overnight;
Build anyway

If you find serenity and happiness,
They maybe jealous;
Be happy anyway

The good you do today,
People will often forget tomorrow;
Do good anyway

Give the world the best you have,
And it may never be enough;
Give the world the best you’ve got anyway

You see, in the final analysis,
It is between you and God;
It never was between you and them anyway

Anita Gabbard

Comments

Blood Diamond

Blood_diamond_ver8Menonton film ini membuat saya berpikir tentang banyak hal. Di satu sisi, film ini masih sangat khas Hollywood,. Kejar-kejar an, hantam-hantaman, dan aksi hancur-hancuran dan ledakan yang tidak terlalu signifikan. Satu hal memang, film Hollywood seringkali menampilkan aksi hancur-hanciran yang berlebih yang, menurut saya, justru mengganggu inti cerita pada film yang sebenarnya sudah bagus.

Anyway, lepas dari ke-khas-an Hollywoodnya, Blood Diamond merupakan film yang saya masukkan dalam list wajib tonton. Kalau dinikmati seperti menonton film biasa, film ini tidak akan menarik. Tak ada keceriaan dalam film ini, meski filmnya juga tak terlalu suram. It is something in between. Tapi, saya mengajurkan untuk meresapi setting dan konteks film ini.

Setting cerita di daerah Sierra Leone, awal tahun 2000an. Perang saudara sedang berkecamuk. Sementara di dunia sedang beredar satu ‘isu’ baru, penyelundupan berlian. Berlian diambil dari daerah Afrika yang sarat konflik. Dalam film ini diceritakan, kaum pemberontak yang disebut R.U.F menyelundupkan berlian untuk mendapatan perbekalan dan senjata untuk melawan pemerintah.

Untuk menambang berlian, mereka membunuhi warga di desa-desa kaum nelayan dan petani di pedalaman. Mereka kemudian mengangkut warga lelaki yang kuat dan memotong tangan sebagian warga lainnya,  so they cannot vote for the election (hmm, saya ingin mencari lagi soal info ini apakah benar demikian. Tapi sejauh ini saya belum mendengar protes terhadap film tersebut). Warga yang kuat dipaksa untuk menjadi pekerja tambang berlian. Tanpa dibayar tentunya, karena mereka diperlakukan sebagai tawanan, sebagai budak. Salah satu warga tersebut adalah Solomon Vandi (Djimon Honsou).

Solomon punya mimpi, suatu saat nanti anak lelakinya, Dia, akan menjadi dokter. Untuk itu, Solomon giat menyemangati Dia untuk terus sekolah meski harus berjalan kaki lima kilometer setiap harinya untuk menuju ke sekolah. Namun kedatangan R.U.F di desa mereka telah memisahkan ayah dan anak ini. Dia pun kemudian direkrut R.U.F dan “dididik” menjadi pemberontak.

Saat tambang berlian diserang tentara pemerintah, Solomon berhasil menyembunyikan sebuah bongkah berlian sebesar kepalan bayi. Bongkahan tersebut berwarna kemerahan. Blood Diamond. Hal ini sampai ke telinga Danny Archer (Leonardo Dicaprio), seorang penyelundup berlian. Dengan janji akan mempertemukan Solomon dengan keluarganya, Danny meminta Solomon memberitahukan dimana ia menyembunyikan berlian tersebut. Setelah berhasil membujuk Solomon, merekapun pergi mencari "batu berdarah" itu.

Supaya Solomon bisa bertemu keluarganya, Archer meminta bantuan Maddy Bowen (Jennifer Connelly) seorang jurnalis majalah. Sebagai jurnalis, Maddy punya akses ke berbagai tempat, termasuk kamp-kamp penampungan warga lokal. Akhirnya Solomon berhasil bertemu dengan istrinya, Jessie, dan anak-anak mereka. Namun Dia tidak nampak. Dari sini Solomon baru tahu bahwa Dia telah direkrut oleh R.U.F.

Satu adegan berlebihan disini (menurut saya) adalah cara bertemu Solomon dan istrinya. Mungkin memang dalam kondisi seperti itu, warga tidak boleh dibiarkan bertemu dengan bebas. Tapi, disini Solomon bertemu dengan istrinya melalui pagar jaring besi yang melingkupi areal kamp pengungsi. Saya tadinya membayangkan mereka akan bertemu di pintu gerbang, diawasi todongan senjata tentara pemrintah tetap, tapi di pintu gerbang. Tidak lewat pagar.

Kemudian, adegan “mengharukan” pertemuan antara Solomon dan Jessie terjadi. Solomon sangat marah saat mengetahui Dia tidak ada bersama istrinya. Ia mulai berteriak-teriak.Tentara pun mulai memukuli Solomon menggunakan laras senapan mereka melalui pagar pembatas. Istrinya diseret masuk oleh tentara dan Solomon diseret menjauhi pagar oleh Danny.

Solomon bertekad untuk mengambil kembali anaknya. Mau tidak mau, Danny terpaksa mengikuti kemauan itu. Maddy, selama beberapa waktu terlibat bersama rombongan Danny dan Solomon. Ia sebenarnya berniat untuk mendapatkan informasi dari Danny mengenai penyelundupan berlian yang terjadi di Afrika. Namun, tidak mungkin Danny menceritakan dan membongkar siapa-siapa yang terlibat begitu saja.

Saya tidak begitu suka Leonardo DeCaprio..tapi saya akui dia bermain cukup bagus dalam film ini..mungkin juga karena isi filmnya berbeda dengan yang biasa ia bintangi. Ada satu adegan yang saya suka, yaitu dialog antara Maddy dan Danny saat Danny melihatnya sedang menulis tentang pertemuan Solomon dan istrinya. Menghadapi tatapan Danny saat membaca sekilas tulisannya, Maddy berkata:

“What, do you think I exploited his grief? You’re off, it’s shit! It’s like another infomercial, you know, little black babies with sworn belly and flies in your eyes. So here I got dead mothers, I got several limbs but there’s nothing new! It might be enough to make some people cry after they read it, maybe even write a check! But its not can be enough to make it stop. I am sick of writing about victims, but its all I can fucking do! Because I need facts, I need names, I need pictures, I need bank accounts. People back home wouldn’t buy a ring if they knew it cost someone else’s on their hand…”

Comments (1)

Pom Poko

3464541020a(A film by Isao Takahata, produce by Hayao Miyazaki)

Bulan bulat dan penuh
Sinarnya yang berwarna emas
Menerpa dedaunan 

Oi..oi..!
Ayo menari, ikuti irama
gendang
Satu..dua..tiga..
Kanan…kiri…kiri..kanan…
Melompat, berputar dan
menerjang 

Oi…oi…!
Ikutilah irama,
bergoyanglah
Bentuk lingkaran, menarilah
dalam putaran
Saat musim semi tiba
Makanan melimpah
Namun sekarang tak mungkin
lagi

Saat musim dingin tiba
Kami tidur dalam lubang
Sekarang kami tidur dalam
comberan

Saat musim kawin tiba, kami
berpesta

Berlari, menyanyi dan
bermain

Sekarang kami ketakutan
Adakah cukup makanan untuk
anak-anak kami?

Saat bulan penuh tiba, kami
menari di padang ilalang
Sekarang bulan tertutup
bayangan gedung-gedung tinggi dan papan iklan 

Oi…oi…! 

Mereka datang dengan
kotak-kotak besar
Tangan mereka mengeruk,
mengangkat dan menyerok lahan
Hutan telah hilang menjadi
apartemen
Gunung telah rata menjadi
jalan raya

Rimbunnya pepohonan jadi tempat
kami berkumpul
Sekarang, padang golf jadi
tempat pertemuan kami
Kami mati karena tua dan
sakit
Sekarang kami mati karena
senapan dan mobil 

Tak ada lagi pesta terang
bulan
Tak ada lagi menari,
menyanyi dan menerjang
Dulu kami makan buah dan
ikan
Sekarang kami makan sisa
hamburger dan tempura 

Oi…oi…! 

Ayah dan ibuku telah tiada
Teman dan kerabatku pun
menghilang
Ini adalah perang
Yang mereka menangkan 

Kami menyamar jadi manusia
Seperti si Rubah,
Kami hidup jadi manusia
Kami terpuruk seperti
manusia 

Kami tak kuat lagi, tak
kuat lagi
Kemanakah kami harus
hidup?… 

Kelicikan adalah milik
Racoon
Tapi manusia masih jauh
lebih licik 

Oi…oi…! 

Bulan bulat dan penuh
Sinarnya yang berwarna emas
Menerpa dedaunan

Oi..oi..!

Ayo menari, ikuti irama
gendang
Satu..dua..tiga..
Kanan…kiri…kiri..kanan…
Melompat, berputar dan
menerjang 

Kemanakah kami harus hidup?

Oi…oi…!

Tak ada tempat lagi

Oi…oi…! 

Kembalikan lahan kami

Oi…oi…! 

Hutan dan gunung kami

Oi…oi…! 

Sungai dan pohon kami,
Juga sinar bulan yang
berwarna keemasan
Bulan yang keemasan… 

Oi…oi…!

Comments

MisoShiru (1)

Duh, lagi kepengen misoshiru nih…..Misoshiru_1

Misoshiru yang hangat mengepul…
Kuahnya yang segar dan agak asam..
Rumput laut dan tahunya sutranya yang lembut..
Harum bumbu khas jepang..
Kapan yah bisa beli bahannya?
Kapan punya kompor buat masaknya?
Kapan punya panci buat nge-wadahinnya?

Hiks…pengen MisoShiru….

Comments

No ‘Mas’..No ‘Bang’

Entah mengapa, ada orang yang masih menganggap urusan orang
lain menjadi urusannya. Bahkan urusan se simple panggilan nama.

Ini berawal dari pertanyaan salah satu Om saya pada malam setelah saya dan Ardian menikah. Dia bertanya dengan nada
mengetes,”Dhan, kamu sama Andre (dia selalu salah memanggil Adian dengan
‘Andre’) lebih tua mana?”. Saya menjawab, “Lebih tua saya empat bulan Om”.

Agaknya, bukan itu jawaban yang diharapkan Om saya. Karena umumnya, kalau menikah, sang lelaki
selalu lebih tua dari yang perempuan. “Oh yah?” kata Om
saya. Kemudian dia melanjutkan,”Tapi dia kan suami kamu Dhan, kamu seharusnya
manggil pakai ’Mas’, gak boleh nama saja untuk menghormati.”
Waktu itu
saya menjawab bahwa Ardian tidak pernah keberatan dengan bagaimana saya memanggil
dia selama ini.

Namun jawaban Om saya cukup
membuat saya heran. Dia bilang, walaupun bagi Ardian tidak apa-apa, saya tetap
wajib memanggil dia ‘Mas’, karena dia adalah suami. Saya harus
menghormatinya.

Hal ini tidak terjadi satu kesempatan saja. Beberapa minggu
lalu, saya dan keluarga besar bersama beberapa anak yatim pergi ke sebuah
masjid di Puncak. Udara sangat
dingin dan hujan turun dengan deras. Kabut pun perlahan-lahan mulai menebal
karena dinginnya cuaca.
Jarak pandang hanya sekitar dua meter kedepan. Selebihnya, yang terlihat hanyalah hamparan asap putih. Asap putih yang lembut
dan dingin.

Setelah sholat Zuhur, kami beristirahat sambil makan siang.
Styrofoam berisi nasi dan lauknya pun mulai dibagikan. Karena cuaca hujan dan tempat di mobil tidak
mencukupi, saya dan Ardian dan satu Om dan satu Tante duduk di bagian belakang
mobil Suzuki APV merah milik Om saya.

Agaknya saat
makan, Om saya tersebut, yang sebelumnya pernah menyuruh saya untuk memanggil
Ardian dengan ‘Mas’, “memergoki” saya memanggil Ardian dengan nama saja.
Kemudian
dia ‘menegur’ saya, persis seperti seorang ayah yang memergoki anaknya sedang
mengambil permen secara diam-diam. Dia bilang,”Dhan! Manggilnya pakai apa??
Pakai..’mas’ yah.” Saya hanya berkata iya, dan sepanjang sisa hari itu, saya
selalu berhati-hati setiap kali akan memanggil atau menyapa suami saya itu.
Saya berusaha menghindar memanggilnya dengan kata sapaan dan lebih banyak
menggantinya dengan ‘kamu’.

Kenyatannya memang, saya tidak pernah memanggil Ardian dengan
panggilan’Mas’ ataupun ‘Bang’. Saya terbiasa memanggilnya ‘Ard’, atau ‘Dian’
saat menyebutnya di depan Bapak dan Ibu mertua saya, atau ‘Abang’ saat
menyebutnya di depan adik ipar saya. Tapi, panggilan saya terhadapnya secara
pribadi, tetap ‘Ard’, Ardian, atau panggilan ‘mesra’ lainnya yang hanya
diucapkan antara kami.

Sejujurnya memang, saya tidak suka menyebut Ardian dengan
Mas, seperti yang dimaksudkan Om saya agar
saya memanggil Ardian dengan ‘Mas’. Panggilan tersebut memang dimaksudkan untuk
menciptakan suatu level diantara kami. Suatu pembedaan. Dengan memanggilnya
Mas, perbedaan antara kami akan jelas. Perbedaan yang sesuai dengan struktur
kehidupan masyarakat jawa. Bahwa Ardian adalah ‘Mas’ saya, suami saya, dan saya
adalah istri baginya.

Mengapa perbedaan
dan posisi ini harus diperjelas seperti itu?
Ini yang saya tidak suka. Memang,
pikiran saya dalam tulisan ini masih asumsi saya semata. Namun berdasarkan
pengalaman saya 23 tahun hidup di keluarga jawa yang kental, sarat dengan
tradisi jawa, panggilan tersebut bukan hanya sekedar membedakan secara posisi,
tapi juga level secara vertical. Bahkan salah seorang sepupu saya yang menikah
seminggu setelah saya, sebelumnya pernah berkata bahwa semenjak sepakat untuk
menikah dengan calon suaminya, dia selalu memanggilnya dengan ‘Mas’. “Kalau
enggak, weleh, bisa-bisa marah dia..,” ujarnya.

Mungkin memang, tidak selalu masalah panggilan ini
ditanggapi secara sama di antara masyarakat suku jawa lainnya. Tapi bagi saya,
masalah yang tadinya remeh ini, akhirnya menjadi suatu hal yang saya pikirkan.

Ada apakah dibalik panggilan Mas? Mengapa Om saya menekankan tidak hanya sekali
untuk memanggil suami saya dnegan panggilan ‘Mas’? Dan mengapa saya merasa tidak
nyaman dengan ‘paksaan’ itu, dan saya tidak pernah melaksanakannya?

Tentunya semua harus dilihat secara konteks. Tapi yang jelas
ingin saya sampaikan adalah, panggilan apapun yang digunakan, tidak masalah
selama suami istri, pasangan kekasih, setuju dan tidak bermasalah dengan itu.

Saya tidak mau memanggil Mas karena saya sudah terbiasa
memanggil suami saya dengan namanya saja. Ini membuat suasana antara kami
dekat, seperti layaknya sahabat, layaknya teman, layaknya kekasih, sama seperti
sebelum kami menikah. Saya tidak mau mulai membuat aturan-aturan dan pembatasan
dan pembedaan yang mungkin malah justru membuat kehidupan kami tidak nyaman, hanya
karena kami sudah menikah.

Kami menikah untuk hidup bersama. Hidup bersama ini adalah
kesepakatan yang kami setujui bersama, bukan karena keinginan orang lain.
Segala yang ada dalam hidup kami adalah tanggung jawab dan resiko kami berdua,
hanya kami.

Dengan memanggil Ardian dengan sebutan Mas, saya merasakan
adanya suatu ‘jarak’ diantara kami (yang menurut salah satu Om saya yang lain memang sudah seharusnya ada jarak sepeti itu, ada level dalam
hubungan suami-istri). Adanya jarak itu akan membuat hidup kami kaku. Semuanya
seolah-olah telah diatur. Adanya jarak ini juga lah yang membuat saya selama
ini tidak bahagia hidup dengan kedua orang tua saya. Dan saya tidak berniat mengulangi
hal yang sama.

Toh, panggilan apapun yang saya berikan bagi Ardian, bagi
saya selalu merupakan ekspresi sayang dan rasa cinta saya kepadanya. Bagi saya,
ekspresi keterbukan, kasih sayang dan cinta jauh-jauh-jauh lebih penting
daripada sekedar ekspresi yang menunjukkan rasa hormat. Ardian adalah suami
saya, yang saya cintai, saya sayangi, bukan bos ataupun atasan saya yang harus
dihormati, dijaga level hubungannya, ditakuti, dipatuhi. Hal ini juga yang
mungkin tidak dimengerti orangtua saya sehingga hubungan kami pun tidak
berhasil dengan baik.

Mungkin bagi sebagian orang, memanggil Mas kepada suami itu
sangat penting. Karena adanya level posisi itu tadi. Tapi menurut saya, Ardian
terlalu cerdas untuk mempermasalahkan saya yang tidak mau memanggilnya dengan
sebutan Mas. Lalu, mengapa orang lain yang tidak ada hubungannya, yang tidak
tahu kehidupan kami justru bermasalah dengan itu? Lagipula, panggilan ‘mesra’
antar kami berdua (huekekhekhekkeekekekek….) sepertinya lebih ampuh untuk
menjaga keutuhan hubungan kami, daripada membuat jarak-jarak tak perlu dalam
kedekatan kami sebagai suami istri dan kekasih.

 

Comments (3)

berat badan

Astaga, akhir-akhir ini, di tengah deadline pekerjaan, skripsi dan urusan-urusan pengantin baru, aku menyadari suatu hal…berat badanku bertambah!

Hah! Bukan berat badan bertambah yang membuatku kaget. Tapi, bahwa aku memperhatikan dan khawatir dengan bobotku yang mulai berakselerasi ini. Yang jelas, aku belum hamil. Berarti ini simply karena pola makanku sekarang. Rasa lelah dan tekanan yang dihadapi sehari-hari membutku mencari suatu pelarian, yaitu makanan.

Aku jadi begitu mudah meluluskan keinginanku untuk makan-makan enak, yang biasanya berkolestrol dan berlemak tinggi. Oh no…ini tentunya bukan tanda yang baik. Kalau aku sampai obese, akan sangat berbahaya saat aku hamil nanti (walau rencananya masih 2-3 tahun lagi sih..)

Berbahaya tidak hanya untuk aku, tapi juga untuk bayiku. Bahkan kalau gula darahku sampai tinggi, in juga bisa menurun ke bayi sehingga sejak bayi bisa-bisa dia sudah diabetes.

Maka itu, aku memutuskan untuk mengatur pola makanku yang sekarang. Tidak dalam arti menahan makan, tapi mengatur nutrisi dan jenis makanan yang masuk. Tadinya, aku agak jarang makan buah karena memang tidak seenak ayam gule restoran padang. Aku tidak makan banyak kol dan sawi karena memang tidak seenak jumbo hot dog booth ataupun cheese cake.

Tapi demi masa depan nanti, aku harus bisa mengatur pola makanku. Inilah yang terpikir olehku..baru-baru saja. Dan aku maish amaze dengan pikiranku ini…

Astaga, padahal naik berat badan paling hanya 2-3 kilo sih. Tapi memang langsung jelas terlihat dan terasa. Kemarin, aku kehilangan celana jeans lagi karena yang ini bahkan sampai copot kancingnya akibat perutku yang makin ndut.

Terus, si Mas juga sering banget becandaan manggil aku ‘ndut’. Huh!

Tapi yah, pola konsumsi ku memang harus diatur supaya lebih sehat. Setidaknya kan sehat juga untuk kantong kalau aku bisa atur sedikit jenis makanan yang kumakan (karena rata-rata, kuantitas makan ku sedikit, walau agak lebih banyak dibanding cewek-cewek lainnya)

Anyway, hal yang gak penting banget gini ngapain yah gue posting di blog?

Comments (1)

bosan

aku sedang bosan
aku sedang malas
aku ingin bermain
aku ingin melepaskan diri
aku ingin lari
aku ingin terbang
aku ingin melompat jauh melintasi padang ilalang
aku ingin melambung diantara pucuk pepohonan dan awan putih menggumpal
aku ingin tertawa terbahak-bahak sampai perutku melilit dan mataku berair
aku ingin menggoyang-goyangkan kepalaku dengan keras sampai seolah akan terlepas dari leherku

aku ingin bermain
aku sedang bosan

……
 

Comments

tubuhku

Ada yang pernah bilang, alis mataku itu bentuknya menurun. Maka harus dibentuk agar terlihat lebih naik, agar terlihat lebih tegas, karena alis menurun menunjukkan bahwa orang tersebut tidak punya kemauan. Ini, sebenarnya jawabanku untuk orang tersebut waktu aku menolak untuk mencukur alisku sendiri. Aku merasa tak ada masalah dengan alisku. Alisku baik-baik saja. Aku tidak melihatnya menurun. Aku bahkan cenderung menyukainya. Sama seperti aku menyukai kulitku yang coklat sawo matang, sama seperti aku menyukai paha dan perutku yang gendut, sama seperti aku menyukai bekas guratan di dahiku yang terbentuk akibat kecelakaan saat main mini basket. Bagiku, tak ada masalah dengan semua itu.

Tubuh (penampilan) bagi sebagian orang memang menjadi masalah yang penting. Bagiku juga. Hanya saja, seperti apa kita mementingkan tubuh (penampilan), itu yang berbeda. Saat aku masih kecil, aku tidak suka makan. Maka, orangtuaku secara rutin memberikan (bahkan memaksakan) obat nafsu makan agar aku mau makan. Hasilnya, aku menjadi amat suka makan! Bahkan sampai sekarang ^_^
Mungkin, waat itu aku belum mengerti dan belum menyadari ‘tubuh’ itu apa. Saat teman-teman masa kecilku mengejek aku gendut, aku tidak mengerti. bukan, bukan gendutnya yang aku tidak mengerti. Yang tidak aku mengerti adalah mengapa mereka menggunakan itu sebagai bahan ejekan. Maka, aku cuek saja.

Semakin dewasa, aku baru memahami ejekan gendut dimaksudkan untuk mengatakan bahwa "kau jelek". Jadi, karena aku gendut, berarti aku jelek. Dan kenapa mereka mengejek orang yang jelek? Memangnya ada apa dengan orang jelek? Apa mereka tidak suka dengan orang jelek? Jelek ternyata, diartikan sama dengan buruk. Saat diejek gendut, aku tidak apa-apa. Saat diejek jelek, aku juga tidak apa-apa. Tapi saat dibilang aku buruk, aku bersedih. Buruk, bagiku adalah saat kau melakukan hal yang tidak sepantasnya seperti menyakiti orang lain. Buruk bagiku sama dengan jahat.

Lalu, apakah karena gendut berarti aku jahat? Apakah karena aku jelek aku ini jahat? Apakah aku menyakiti orang lain hanya karena aku gendut? Bagaimana sebuah penampilan bisa menjahati dan menyakiti orang lain? Seiring waktu, aku menyadari, saat seseorang diejek jelek, bukan dia yang menyakiti orang lain, tapi orang lainlah yang menyakitinya. Maka, sesungguhnya aku lah yang disakiti.

Tapi syukur, meski mengalami periode low self-confident, masa ini tidak berpengaruh banyak dalam hidupku. Memang, cara pandang perlu diubah. If you believe that you don’t need to feel sorry about your body, that God has given everything that is good for you (job, parents, mate, house, etc), then why grundle?

I thought that by time, people will eventually see something from the essence, from the use, from the benefit, from the function and from why it is needed. But, this thing probably depends on how people are nurtured by their surrounding. Ini masalah pola pikir. Masalahnya, hitam=jahat, putih=baik, kurus=cantik, jelek=jahat sudah menjadi pola pikir yang melembaga.

Kupikir, tak ada masalah dengan tubuh yang gendut (kecuali kamu butuh kain yang lebih luas, baju ukuran lebih besar, ruangan yang lebih lega, etc), tak ada masalah dengan jelek (ya jangan maksa jadi bintang iklan atau film). Dan, tak ada masalah dengan bentuk alisku. Alisku baik-baik saja. See??

Comments (1)

kompromi dan kedewasaan

Baru-baru ini ngobrol dengan Ard, sahabat terbaikku. Saat membahas kondisi yang aku (kami) alami saat ini, Ard bilang there’s two way to solve it. Yang pertama adalah dengan mengakui secara terbuka di hadapan seluruh keluarga apa-apa yang sebenarnya aku dan kami rasakan. Resikonya, akan ada konflik terbuka, tidak saja dengan orang tuaku, tapi juga dengan seluruh keluarga besar. Implikasinya, aku akan dianggap anak kurangajar, durhaka mungkin, keretakan dan pemutusan  hubungan keluarga. Tapi setidaknya, tak perlu ada lagi saat-saat memendam perasan dan sakit hati, tak ada lagi menahan diri demi menyenangkan satu sama lain, tak ada lagi sikap-sikap semu dan topeng keceriaan. Semuanya akan berubah. Semua kestabilan semu ini, semua perasaan menekan yang meski tak dikatakan tapi saling kami rasakan, akan menghilang.

Yang kedua, kompromi. Caranya, dengan mengubah caraku berpikir, mengubah caraku memandang pesoalan dan sikap-sikap mereka. Karena sepertinya tak mungkin menunggu mereka berubah pikiran. A King, will always feel as a King. Resikonya, aku harus banyak mengalah, lebih banyak bersabar, lebih banyak diam, dan ada kemungkinan dengan mengalah, kondisi ketidakberdayaan ini akan terus berjalan sepanjang hidupku. Aku akan terus menerus merasakan kepenatan ini. Sisi baiknya, mengurangi konflik, menjaga hubungan dengan keluarga, kestabilan terjaga, dan perasaan mereka pun terlindungi. Aku pun akan dapat menghindar dari melukai hati mereka, seperti yang seorang anak harusnya lakukan.

Seandainya aku dapat menjadi kurang ajar, seandainya aku tidak mau menjadi dewasa, seandainya tidak apa bagiku menyakiti orang lain, seandainya tidak menakutkan untuk mengahdapi mereka, untuk menerima cacian, menerima bentakan, menerima sumpah-sumpah, menerima perasaan yang mereka sampaikan kepadaku, aku akan baik-baik saja…aku tak perlu memilih…

Saat ini, saat untuk melihat kembali. Apa saja yang sebenarnya sudah kujalani bersama mereka?  Mana yang sebaiknya kulakukan?  Jalan mana yang berani untuk kuambil?  Mana yang harus kudahulukan?

Saat itu aku menerima pilihan yang kedua. Kompromi. Ubah cara pandang. Aku mencoba untuk mengkritik diriku sendiri. Betapa aku keras kepala (seperti yang dibilang Ard), betapa pikiranku juga buntu. Aku mengatakan mereka buntu dan keras kepala, dan ternyata aku melakukan hal yang sama. Seburuk apapun aku memandang apa yang mereka lakukan dan inginkan dariku, aku tak bisa menutup mata terhadap komponen yang sebenarnya tak pernah lepas dari diri mereka, kasih sayang.

Mereka sayang padaku. Aku tahu itu. Mereka mencintaiku. Aku tahu itu. Aku menyayangi mereka. Aku tahu itu. Aku menyayangi mereka. Aku tahu itu. Tahukah mereka soal itu? Tahukah mereka bahwa aku mengetahui bahwa mereka mencintaiku? Tahukah mereka bahwa aku mencintai mereka? Lalu kenapa kami terus dan terus saling menyakiti?

Kupikir, ada hal-hal yang memang harus kita terima, like it or not. Namun, ada juga hal-hal yang jika kita percaya itu merugikan jauh lebih besar, ya jangan dilakukan. Persoalannya adalah perbedaan cara pandang itu. Mana yang merugikan, mana tidak. Inilah yang berbeda dari diriku dan mereka, cara pandang ini.

Aku tidak harus menerima semua cara pandang mereka, sama seperti mereka punya hak untuk menolak cara pandangku dan membela cara pandang mereka. Mungkin, saat aku menunjukkan pengertian terhadap mereka, mereka akan lebih dapat menerima diriku. Semoga.

Maka aku akan kompromi. Ini juga salah satu sikap untuk tidak mementingkan diri sendiri. Bukankah aku sudah cukup egois, sudah cukup menerima banyak hal? Kupikir, ini hanyalah salah satu dari hal-hal di dunia ini yang memang perlu kita lepaskan, kita korbankan. Akan selalu ada kebahagiaan lain yang datang. Aku mungkin tak bisa rengkuh semua, tapi setidaknya, ada hal yang bisa kulakukan, ada balas budi yang bisa kuberikan…

Mungkin juga ini satu langkah "pendewasaan"…apapun artinya ini….

Comments (4)

« Previous entries · Next entries »