A Mother’s Feeling
Ada sebuah buku Asma Nadia mengenai perasaan seorang ibu. Di bukunya, Asma Nadia menulis bahwa semejak seorang ibu melahirkan, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Sebagian jiwa sang ibu turut terbawa saat anaknya terlahir. Maka tak heran apabila seorang ibu kerap merasa cemas jika anaknya pulang terlambat, bahkan panaroid hanya karena melihat ujung jari sang anak berdarah terkena tusukan jarum.
Aku jadi teringat suatu masa saat aku masih kecil. Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, demikian juga dengan adikku. Kami berdua bermain-main, berputar-putar dan menari-nari di garasi rumah yang berubah fungsi menjadi dapur kedua. Karena menari berputar-putar, kepalaku menjadi pusing dan jalanku pun limbung. Akhrnya aku menabrak kusen pintu dan dahiku terbentur pinggirin grendel pintu yang tajam. Darah segar langsung mengucur dari dahilku. Merasakan cairan hangat tersebut tumpah ke wajahku, aku pun langsung memanggil Mama, begitu aku memanggil ibuku, dan berkata, ”Maaa….aku berdarah nih…”.
Mama yang melihatku berlumuran darah langsung panik. Dia menjerit memanggil namaku, menyongsongku dan terus bertanya apa yang terjadi. Saat itu sesungguhnya aku tidak begitu menyadari apa yang terjadi. Aku tahu bahwa aku terluka, tapi aku tetap merasa santai dan tenang. Namun begitu Mama menjerit ketakutan, aku pun mulai ngeh bahwa mungkin seharusnya aku juga merasa khawatir dan takut. Dan tiba-tiba entah dari mana, rasa takut menjalari diriku.
Mama langsung membimbingku ke tempat mencuci piring untuk membersihkan lukaku. Sesaat aku takut, namun setelah merasakan air yang dingin mengenai wajahku, aku seperti tersadar dan segera minta diambilkan es batu untuk mengompres sementara aku membersihkan luka dan darah di wajahku. Masih dalam keadaan panik, Mama mengambil bongkahan besar es batu dan langsung menempelkannya di atas lukaku. Luka yang terbuka langsung diterpa oleh es batu yang dingin. Aku pun mengernyit dan berkata, ”Jangan langsung Ma, ditutupin kain dulu…”.
Mama yang masih kaget langsung mengambil serbet dan melapisi es batu tersebut, kemudian mengompres lukaku sambil membantuku membersihkan wajah. Adikku yang tadi bermain denganku hanya bisa diam. Rupanya di tengah kepanikan dan kecemasan, adikku kena damprat Mamaku karena ia mengira adikku turut andil dalam ’kecelakaan’ yang kualami.
Setelah suasana agak tenang, aku menjelaskan apa yang terjadi, bahwa ini salahku sendiri. Saat itulah aku baru bisa melihat dengan jelas wajah Mama. Wajahnya pucat dan matanya terus menatapku. Pipinya basah karena air mata dan bibirnya masih sedikit bergetar. Sampai sekarang aku masih bisa mengingat secara samar kecemasan dan ketakutan yang terbayang di wajahnya. Dan aku bisa mengingat perasaan yang kurasakan, yaitu takut. Bukan takut karena aku terluka, bukan takut dimarahi Mama, aku takut karena Mama takut. Karena Mama menyimpan rasa takut akan apa-apa yang terjadi pada diriku. Seolah luka di dahiku dan darahku yang mengalir tadi adalah luka di dahinya dan aliran darahnya. Bahkan, ketakutan dan kecemasannya terhadap diriku melebihi kecemasanku sendiri.
Mungkin sejak itulah aku selalu ingat untuk menjaga diri dan mengabari bila akan pulang telat. Sebab aku tahu, rasa takut Mama untuk keselamatanku jauh lebih besar dari perasaannya untuk dirinya sendiri. Aku pun mulai tahu perasaan itu semenjak Asha hadir dalam hidupku.