Archive forJuly, 2007

Blog Teman-teman Saya

Ketika browsing dan surfing dan nge-mailing (hm, apa ya istilahnya?), hal yang paling suka untuk saya lakukan adalah membaca tulisan-tulisan di blog teman-teman saya.

Saya suka membaca apa yang mereka tuangkan dalam tulisan. Ada yang bercerita tentang sahabat-sahabatnya, ada yang menulis pengalaman perjalanannya, ada yang membuat cerita fiksi, menulis puisi, curhat, ataupun sekedar mencopy lirik lagu yang mereka sukai.

Setiap kali saya membuka blog mereka, saya merasakan seperti menikmati sebuah buku kompilasi yang penulisnya adalah orang-orang yang saya kenal. Dan teman-teman saya adalah orang yang pandai menulis. Mereka tahu bagaimana membuat tulisan mengalir tanpa perlu merasa tersandung saat membacanya. Mereka juga tahu bagaimana berkisah tanpa harus menggurui, dan yang terpenting, mereka tahu bagaimana menampilkan apa yang mereka rasakan dalam tiap katanya.

Saya bisa tertawa terbahak-bahak, meringis kesakitan, ataupun termenung setelah membaca tulisan-tulisan mereka. Meski kesal karena Pak Zul baru bisa menyerahkan revisi hari Rabu (padahal jadwal pengumpulan terakhir hari Jumat), saya bisa ceria kembali setelah membaca Kontemplasi Julia Perez. Saya jadi ingin menulis tentang buku-buku yang menemani saya selama ini setelah membaca For The Good Books that Fly into My Hands.

Dan saya baru menyadari billing net saya sudah sampai dua digit…

Comments (1)

“Maafkan aku”

Ada banyak hal yang kualami sejak aku menikah. Kebahagian bisa bersama dengan orang yang dicintai, senangnya bisa mengatur hidupmu sendiri, juga sulitnya berbagi hidup dengan orang lain. Lho, sulitnya berbagi hidup? Bukannya kamu berbagi hidupmu dengan orang yang kami cintai Dhanny? Well, mencintai bukan berarti bahwa dua orang yang berbeda tidak boleh tetap berbeda bukan?

Tentu saja, seperti pasangan-pasangan lainnya, saya dan Ardian juga mengalami masa-masa menyebalkan disamping manis-ceria. Namun disinilah saya merasakan benar-benar apa yang dimaksud berbagi hidup. Ada satu waktu dimana saya dan Ardian berkonflik dan saya menangis begitu lama, terus sesenggukkan dan hanya bisa menatap dia. Kemudian saya pergi mandi sambil terus sesenggukkan. Pedih rasanya saat kau harus berbeda pendapat dengan orang yang kau sayangi. Saat selesai mandi, saya mendatanginya dan saya terkejut saat menemukan ia sedang meneteskan air mata.

Saat itulah saya merasa lebih sakit lagi. Tak terbayangkan buat saya untuk menyusahkan dia, apalagi membuatnya menangis. Saya merasa begitu pedih, pedih sekali. Disinilah sekali lagi saya mengerti, bahwa saya sangat mencintai dia. Saya hanya menginginkan dia tersenyum, dia tertawa, dia makan banyak, dia gembira, dia tidur pulas, dan dia ceria.

Dan saya merangkulnya, turut menangis, seraya membisikkan kata, "Sayang…maafin aku yah…"

Comments (2)