Menonton film ini membuat saya berpikir tentang banyak hal. Di satu sisi, film ini masih sangat khas Hollywood,. Kejar-kejar an, hantam-hantaman, dan aksi hancur-hancuran dan ledakan yang tidak terlalu signifikan. Satu hal memang, film Hollywood seringkali menampilkan aksi hancur-hanciran yang berlebih yang, menurut saya, justru mengganggu inti cerita pada film yang sebenarnya sudah bagus.
Anyway, lepas dari ke-khas-an Hollywoodnya, Blood Diamond merupakan film yang saya masukkan dalam list wajib tonton. Kalau dinikmati seperti menonton film biasa, film ini tidak akan menarik. Tak ada keceriaan dalam film ini, meski filmnya juga tak terlalu suram. It is something in between. Tapi, saya mengajurkan untuk meresapi setting dan konteks film ini.
Setting cerita di daerah Sierra Leone, awal tahun 2000an. Perang saudara sedang berkecamuk. Sementara di dunia sedang beredar satu ‘isu’ baru, penyelundupan berlian. Berlian diambil dari daerah Afrika yang sarat konflik. Dalam film ini diceritakan, kaum pemberontak yang disebut R.U.F menyelundupkan berlian untuk mendapatan perbekalan dan senjata untuk melawan pemerintah.
Untuk menambang berlian, mereka membunuhi warga di desa-desa kaum nelayan dan petani di pedalaman. Mereka kemudian mengangkut warga lelaki yang kuat dan memotong tangan sebagian warga lainnya, so they cannot vote for the election (hmm, saya ingin mencari lagi soal info ini apakah benar demikian. Tapi sejauh ini saya belum mendengar protes terhadap film tersebut). Warga yang kuat dipaksa untuk menjadi pekerja tambang berlian. Tanpa dibayar tentunya, karena mereka diperlakukan sebagai tawanan, sebagai budak. Salah satu warga tersebut adalah Solomon Vandi (Djimon Honsou).
Solomon punya mimpi, suatu saat nanti anak lelakinya, Dia, akan menjadi dokter. Untuk itu, Solomon giat menyemangati Dia untuk terus sekolah meski harus berjalan kaki lima kilometer setiap harinya untuk menuju ke sekolah. Namun kedatangan R.U.F di desa mereka telah memisahkan ayah dan anak ini. Dia pun kemudian direkrut R.U.F dan “dididik” menjadi pemberontak.
Saat tambang berlian diserang tentara pemerintah, Solomon berhasil menyembunyikan sebuah bongkah berlian sebesar kepalan bayi. Bongkahan tersebut berwarna kemerahan. Blood Diamond. Hal ini sampai ke telinga Danny Archer (Leonardo Dicaprio), seorang penyelundup berlian. Dengan janji akan mempertemukan Solomon dengan keluarganya, Danny meminta Solomon memberitahukan dimana ia menyembunyikan berlian tersebut. Setelah berhasil membujuk Solomon, merekapun pergi mencari "batu berdarah" itu.
Supaya Solomon bisa bertemu keluarganya, Archer meminta bantuan Maddy Bowen (Jennifer Connelly) seorang jurnalis majalah. Sebagai jurnalis, Maddy punya akses ke berbagai tempat, termasuk kamp-kamp penampungan warga lokal. Akhirnya Solomon berhasil bertemu dengan istrinya, Jessie, dan anak-anak mereka. Namun Dia tidak nampak. Dari sini Solomon baru tahu bahwa Dia telah direkrut oleh R.U.F.
Satu adegan berlebihan disini (menurut saya) adalah cara bertemu Solomon dan istrinya. Mungkin memang dalam kondisi seperti itu, warga tidak boleh dibiarkan bertemu dengan bebas. Tapi, disini Solomon bertemu dengan istrinya melalui pagar jaring besi yang melingkupi areal kamp pengungsi. Saya tadinya membayangkan mereka akan bertemu di pintu gerbang, diawasi todongan senjata tentara pemrintah tetap, tapi di pintu gerbang. Tidak lewat pagar.
Kemudian, adegan “mengharukan” pertemuan antara Solomon dan Jessie terjadi. Solomon sangat marah saat mengetahui Dia tidak ada bersama istrinya. Ia mulai berteriak-teriak.Tentara pun mulai memukuli Solomon menggunakan laras senapan mereka melalui pagar pembatas. Istrinya diseret masuk oleh tentara dan Solomon diseret menjauhi pagar oleh Danny.
Solomon bertekad untuk mengambil kembali anaknya. Mau tidak mau, Danny terpaksa mengikuti kemauan itu. Maddy, selama beberapa waktu terlibat bersama rombongan Danny dan Solomon. Ia sebenarnya berniat untuk mendapatkan informasi dari Danny mengenai penyelundupan berlian yang terjadi di Afrika. Namun, tidak mungkin Danny menceritakan dan membongkar siapa-siapa yang terlibat begitu saja.
Saya tidak begitu suka Leonardo DeCaprio..tapi saya akui dia bermain cukup bagus dalam film ini..mungkin juga karena isi filmnya berbeda dengan yang biasa ia bintangi. Ada satu adegan yang saya suka, yaitu dialog antara Maddy dan Danny saat Danny melihatnya sedang menulis tentang pertemuan Solomon dan istrinya. Menghadapi tatapan Danny saat membaca sekilas tulisannya, Maddy berkata:
“What, do you think I exploited his grief? You’re off, it’s shit! It’s like another infomercial, you know, little black babies with sworn belly and flies in your eyes. So here I got dead mothers, I got several limbs but there’s nothing new! It might be enough to make some people cry after they read it, maybe even write a check! But its not can be enough to make it stop. I am sick of writing about victims, but its all I can fucking do! Because I need facts, I need names, I need pictures, I need bank accounts. People back home wouldn’t buy a ring if they knew it cost someone else’s on their hand…”