No ‘Mas’..No ‘Bang’
Entah mengapa, ada orang yang masih menganggap urusan orang
lain menjadi urusannya. Bahkan urusan se simple panggilan nama.
Ini berawal dari pertanyaan salah satu Om saya pada malam setelah saya dan Ardian menikah. Dia bertanya dengan nada
mengetes,”Dhan, kamu sama Andre (dia selalu salah memanggil Adian dengan
‘Andre’) lebih tua mana?”. Saya menjawab, “Lebih tua saya empat bulan Om”.
Agaknya, bukan itu jawaban yang diharapkan Om saya. Karena umumnya, kalau menikah, sang lelaki
selalu lebih tua dari yang perempuan. “Oh yah?” kata Om
saya. Kemudian dia melanjutkan,”Tapi dia kan suami kamu Dhan, kamu seharusnya
manggil pakai ’Mas’, gak boleh nama saja untuk menghormati.” Waktu itu
saya menjawab bahwa Ardian tidak pernah keberatan dengan bagaimana saya memanggil
dia selama ini.
Namun jawaban Om saya cukup
membuat saya heran. Dia bilang, walaupun bagi Ardian tidak apa-apa, saya tetap
wajib memanggil dia ‘Mas’, karena dia adalah suami. Saya harus
menghormatinya.
Hal ini tidak terjadi satu kesempatan saja. Beberapa minggu
lalu, saya dan keluarga besar bersama beberapa anak yatim pergi ke sebuah
masjid di Puncak. Udara sangat
dingin dan hujan turun dengan deras. Kabut pun perlahan-lahan mulai menebal
karena dinginnya cuaca. Jarak pandang hanya sekitar dua meter kedepan. Selebihnya, yang terlihat hanyalah hamparan asap putih. Asap putih yang lembut
dan dingin.
Setelah sholat Zuhur, kami beristirahat sambil makan siang.
Styrofoam berisi nasi dan lauknya pun mulai dibagikan. Karena cuaca hujan dan tempat di mobil tidak
mencukupi, saya dan Ardian dan satu Om dan satu Tante duduk di bagian belakang
mobil Suzuki APV merah milik Om saya.
Agaknya saat
makan, Om saya tersebut, yang sebelumnya pernah menyuruh saya untuk memanggil
Ardian dengan ‘Mas’, “memergoki” saya memanggil Ardian dengan nama saja. Kemudian
dia ‘menegur’ saya, persis seperti seorang ayah yang memergoki anaknya sedang
mengambil permen secara diam-diam. Dia bilang,”Dhan! Manggilnya pakai apa??
Pakai..’mas’ yah.” Saya hanya berkata iya, dan sepanjang sisa hari itu, saya
selalu berhati-hati setiap kali akan memanggil atau menyapa suami saya itu.
Saya berusaha menghindar memanggilnya dengan kata sapaan dan lebih banyak
menggantinya dengan ‘kamu’.
Kenyatannya memang, saya tidak pernah memanggil Ardian dengan
panggilan’Mas’ ataupun ‘Bang’. Saya terbiasa memanggilnya ‘Ard’, atau ‘Dian’
saat menyebutnya di depan Bapak dan Ibu mertua saya, atau ‘Abang’ saat
menyebutnya di depan adik ipar saya. Tapi, panggilan saya terhadapnya secara
pribadi, tetap ‘Ard’, Ardian, atau panggilan ‘mesra’ lainnya yang hanya
diucapkan antara kami.
Sejujurnya memang, saya tidak suka menyebut Ardian dengan
Mas, seperti yang dimaksudkan Om saya agar
saya memanggil Ardian dengan ‘Mas’. Panggilan tersebut memang dimaksudkan untuk
menciptakan suatu level diantara kami. Suatu pembedaan. Dengan memanggilnya
Mas, perbedaan antara kami akan jelas. Perbedaan yang sesuai dengan struktur
kehidupan masyarakat jawa. Bahwa Ardian adalah ‘Mas’ saya, suami saya, dan saya
adalah istri baginya.
Mengapa perbedaan
dan posisi ini harus diperjelas seperti itu? Ini yang saya tidak suka. Memang,
pikiran saya dalam tulisan ini masih asumsi saya semata. Namun berdasarkan
pengalaman saya 23 tahun hidup di keluarga jawa yang kental, sarat dengan
tradisi jawa, panggilan tersebut bukan hanya sekedar membedakan secara posisi,
tapi juga level secara vertical. Bahkan salah seorang sepupu saya yang menikah
seminggu setelah saya, sebelumnya pernah berkata bahwa semenjak sepakat untuk
menikah dengan calon suaminya, dia selalu memanggilnya dengan ‘Mas’. “Kalau
enggak, weleh, bisa-bisa marah dia..,” ujarnya.
Mungkin memang, tidak selalu masalah panggilan ini
ditanggapi secara sama di antara masyarakat suku jawa lainnya. Tapi bagi saya,
masalah yang tadinya remeh ini, akhirnya menjadi suatu hal yang saya pikirkan.
Ada apakah dibalik panggilan Mas? Mengapa Om saya menekankan tidak hanya sekali
untuk memanggil suami saya dnegan panggilan ‘Mas’? Dan mengapa saya merasa tidak
nyaman dengan ‘paksaan’ itu, dan saya tidak pernah melaksanakannya?
Tentunya semua harus dilihat secara konteks. Tapi yang jelas
ingin saya sampaikan adalah, panggilan apapun yang digunakan, tidak masalah
selama suami istri, pasangan kekasih, setuju dan tidak bermasalah dengan itu.
Saya tidak mau memanggil Mas karena saya sudah terbiasa
memanggil suami saya dengan namanya saja. Ini membuat suasana antara kami
dekat, seperti layaknya sahabat, layaknya teman, layaknya kekasih, sama seperti
sebelum kami menikah. Saya tidak mau mulai membuat aturan-aturan dan pembatasan
dan pembedaan yang mungkin malah justru membuat kehidupan kami tidak nyaman, hanya
karena kami sudah menikah.
Kami menikah untuk hidup bersama. Hidup bersama ini adalah
kesepakatan yang kami setujui bersama, bukan karena keinginan orang lain.
Segala yang ada dalam hidup kami adalah tanggung jawab dan resiko kami berdua,
hanya kami.
Dengan memanggil Ardian dengan sebutan Mas, saya merasakan
adanya suatu ‘jarak’ diantara kami (yang menurut salah satu Om saya yang lain memang sudah seharusnya ada jarak sepeti itu, ada level dalam
hubungan suami-istri). Adanya jarak itu akan membuat hidup kami kaku. Semuanya
seolah-olah telah diatur. Adanya jarak ini juga lah yang membuat saya selama
ini tidak bahagia hidup dengan kedua orang tua saya. Dan saya tidak berniat mengulangi
hal yang sama.
Toh, panggilan apapun yang saya berikan bagi Ardian, bagi
saya selalu merupakan ekspresi sayang dan rasa cinta saya kepadanya. Bagi saya,
ekspresi keterbukan, kasih sayang dan cinta jauh-jauh-jauh lebih penting
daripada sekedar ekspresi yang menunjukkan rasa hormat. Ardian adalah suami
saya, yang saya cintai, saya sayangi, bukan bos ataupun atasan saya yang harus
dihormati, dijaga level hubungannya, ditakuti, dipatuhi. Hal ini juga yang
mungkin tidak dimengerti orangtua saya sehingga hubungan kami pun tidak
berhasil dengan baik.
Mungkin bagi sebagian orang, memanggil Mas kepada suami itu
sangat penting. Karena adanya level posisi itu tadi. Tapi menurut saya, Ardian
terlalu cerdas untuk mempermasalahkan saya yang tidak mau memanggilnya dengan
sebutan Mas. Lalu, mengapa orang lain yang tidak ada hubungannya, yang tidak
tahu kehidupan kami justru bermasalah dengan itu? Lagipula, panggilan ‘mesra’
antar kami berdua (huekekhekhekkeekekekek….) sepertinya lebih ampuh untuk
menjaga keutuhan hubungan kami, daripada membuat jarak-jarak tak perlu dalam
kedekatan kami sebagai suami istri dan kekasih.