kompromi dan kedewasaan
Baru-baru ini ngobrol dengan Ard, sahabat terbaikku. Saat membahas kondisi yang aku (kami) alami saat ini, Ard bilang there’s two way to solve it. Yang pertama adalah dengan mengakui secara terbuka di hadapan seluruh keluarga apa-apa yang sebenarnya aku dan kami rasakan. Resikonya, akan ada konflik terbuka, tidak saja dengan orang tuaku, tapi juga dengan seluruh keluarga besar. Implikasinya, aku akan dianggap anak kurangajar, durhaka mungkin, keretakan dan pemutusan hubungan keluarga. Tapi setidaknya, tak perlu ada lagi saat-saat memendam perasan dan sakit hati, tak ada lagi menahan diri demi menyenangkan satu sama lain, tak ada lagi sikap-sikap semu dan topeng keceriaan. Semuanya akan berubah. Semua kestabilan semu ini, semua perasaan menekan yang meski tak dikatakan tapi saling kami rasakan, akan menghilang.
Yang kedua, kompromi. Caranya, dengan mengubah caraku berpikir, mengubah caraku memandang pesoalan dan sikap-sikap mereka. Karena sepertinya tak mungkin menunggu mereka berubah pikiran. A King, will always feel as a King. Resikonya, aku harus banyak mengalah, lebih banyak bersabar, lebih banyak diam, dan ada kemungkinan dengan mengalah, kondisi ketidakberdayaan ini akan terus berjalan sepanjang hidupku. Aku akan terus menerus merasakan kepenatan ini. Sisi baiknya, mengurangi konflik, menjaga hubungan dengan keluarga, kestabilan terjaga, dan perasaan mereka pun terlindungi. Aku pun akan dapat menghindar dari melukai hati mereka, seperti yang seorang anak harusnya lakukan.
Seandainya aku dapat menjadi kurang ajar, seandainya aku tidak mau menjadi dewasa, seandainya tidak apa bagiku menyakiti orang lain, seandainya tidak menakutkan untuk mengahdapi mereka, untuk menerima cacian, menerima bentakan, menerima sumpah-sumpah, menerima perasaan yang mereka sampaikan kepadaku, aku akan baik-baik saja…aku tak perlu memilih…
Saat ini, saat untuk melihat kembali. Apa saja yang sebenarnya sudah kujalani bersama mereka? Mana yang sebaiknya kulakukan? Jalan mana yang berani untuk kuambil? Mana yang harus kudahulukan?
Saat itu aku menerima pilihan yang kedua. Kompromi. Ubah cara pandang. Aku mencoba untuk mengkritik diriku sendiri. Betapa aku keras kepala (seperti yang dibilang Ard), betapa pikiranku juga buntu. Aku mengatakan mereka buntu dan keras kepala, dan ternyata aku melakukan hal yang sama. Seburuk apapun aku memandang apa yang mereka lakukan dan inginkan dariku, aku tak bisa menutup mata terhadap komponen yang sebenarnya tak pernah lepas dari diri mereka, kasih sayang.
Mereka sayang padaku. Aku tahu itu. Mereka mencintaiku. Aku tahu itu. Aku menyayangi mereka. Aku tahu itu. Aku menyayangi mereka. Aku tahu itu. Tahukah mereka soal itu? Tahukah mereka bahwa aku mengetahui bahwa mereka mencintaiku? Tahukah mereka bahwa aku mencintai mereka? Lalu kenapa kami terus dan terus saling menyakiti?
Kupikir, ada hal-hal yang memang harus kita terima, like it or not. Namun, ada juga hal-hal yang jika kita percaya itu merugikan jauh lebih besar, ya jangan dilakukan. Persoalannya adalah perbedaan cara pandang itu. Mana yang merugikan, mana tidak. Inilah yang berbeda dari diriku dan mereka, cara pandang ini.
Aku tidak harus menerima semua cara pandang mereka, sama seperti mereka punya hak untuk menolak cara pandangku dan membela cara pandang mereka. Mungkin, saat aku menunjukkan pengertian terhadap mereka, mereka akan lebih dapat menerima diriku. Semoga.
Maka aku akan kompromi. Ini juga salah satu sikap untuk tidak mementingkan diri sendiri. Bukankah aku sudah cukup egois, sudah cukup menerima banyak hal? Kupikir, ini hanyalah salah satu dari hal-hal di dunia ini yang memang perlu kita lepaskan, kita korbankan. Akan selalu ada kebahagiaan lain yang datang. Aku mungkin tak bisa rengkuh semua, tapi setidaknya, ada hal yang bisa kulakukan, ada balas budi yang bisa kuberikan…
Mungkin juga ini satu langkah "pendewasaan"…apapun artinya ini….
Lama Said,
December 15, 2006 @ 7:36 am
Like i said, or maybe like Two Mix said, “it’s just wild beat communications”
Dhanny Said,
December 18, 2006 @ 12:02 am
Hm…komunikasi mungkin suatru cara untuk mencari solusi. Tapi walaupun kita mengerti apa yang diinginkan, walau emreka tahu dan mengerti, tapi kalau tak mau mengalah atauopun tetap tak setuju ya sama aja boong!!!
communication is only communication…what matters is what you have in your heart..your mind…and your soul…
' Zhar Said,
January 30, 2007 @ 5:23 pm
hmmm…gue akhir2 ini baca psikogila di inet…katanya sih…anak pertama psikologinya emang selalu jadi pembangkang…hahaha…menentang terus….hahahaha….sepertinya mereka benar…
' Zhar Said,
January 30, 2007 @ 5:24 pm
hmmm…gue akhir2 ini baca psikogila di inet…katanya sih…anak pertama psikologinya emang selalu jadi pembangkang…hahaha…menentang terus….hahahaha….sepertinya mereka benar…