Archive forDecember, 2006

tubuhku

Ada yang pernah bilang, alis mataku itu bentuknya menurun. Maka harus dibentuk agar terlihat lebih naik, agar terlihat lebih tegas, karena alis menurun menunjukkan bahwa orang tersebut tidak punya kemauan. Ini, sebenarnya jawabanku untuk orang tersebut waktu aku menolak untuk mencukur alisku sendiri. Aku merasa tak ada masalah dengan alisku. Alisku baik-baik saja. Aku tidak melihatnya menurun. Aku bahkan cenderung menyukainya. Sama seperti aku menyukai kulitku yang coklat sawo matang, sama seperti aku menyukai paha dan perutku yang gendut, sama seperti aku menyukai bekas guratan di dahiku yang terbentuk akibat kecelakaan saat main mini basket. Bagiku, tak ada masalah dengan semua itu.

Tubuh (penampilan) bagi sebagian orang memang menjadi masalah yang penting. Bagiku juga. Hanya saja, seperti apa kita mementingkan tubuh (penampilan), itu yang berbeda. Saat aku masih kecil, aku tidak suka makan. Maka, orangtuaku secara rutin memberikan (bahkan memaksakan) obat nafsu makan agar aku mau makan. Hasilnya, aku menjadi amat suka makan! Bahkan sampai sekarang ^_^
Mungkin, waat itu aku belum mengerti dan belum menyadari ‘tubuh’ itu apa. Saat teman-teman masa kecilku mengejek aku gendut, aku tidak mengerti. bukan, bukan gendutnya yang aku tidak mengerti. Yang tidak aku mengerti adalah mengapa mereka menggunakan itu sebagai bahan ejekan. Maka, aku cuek saja.

Semakin dewasa, aku baru memahami ejekan gendut dimaksudkan untuk mengatakan bahwa "kau jelek". Jadi, karena aku gendut, berarti aku jelek. Dan kenapa mereka mengejek orang yang jelek? Memangnya ada apa dengan orang jelek? Apa mereka tidak suka dengan orang jelek? Jelek ternyata, diartikan sama dengan buruk. Saat diejek gendut, aku tidak apa-apa. Saat diejek jelek, aku juga tidak apa-apa. Tapi saat dibilang aku buruk, aku bersedih. Buruk, bagiku adalah saat kau melakukan hal yang tidak sepantasnya seperti menyakiti orang lain. Buruk bagiku sama dengan jahat.

Lalu, apakah karena gendut berarti aku jahat? Apakah karena aku jelek aku ini jahat? Apakah aku menyakiti orang lain hanya karena aku gendut? Bagaimana sebuah penampilan bisa menjahati dan menyakiti orang lain? Seiring waktu, aku menyadari, saat seseorang diejek jelek, bukan dia yang menyakiti orang lain, tapi orang lainlah yang menyakitinya. Maka, sesungguhnya aku lah yang disakiti.

Tapi syukur, meski mengalami periode low self-confident, masa ini tidak berpengaruh banyak dalam hidupku. Memang, cara pandang perlu diubah. If you believe that you don’t need to feel sorry about your body, that God has given everything that is good for you (job, parents, mate, house, etc), then why grundle?

I thought that by time, people will eventually see something from the essence, from the use, from the benefit, from the function and from why it is needed. But, this thing probably depends on how people are nurtured by their surrounding. Ini masalah pola pikir. Masalahnya, hitam=jahat, putih=baik, kurus=cantik, jelek=jahat sudah menjadi pola pikir yang melembaga.

Kupikir, tak ada masalah dengan tubuh yang gendut (kecuali kamu butuh kain yang lebih luas, baju ukuran lebih besar, ruangan yang lebih lega, etc), tak ada masalah dengan jelek (ya jangan maksa jadi bintang iklan atau film). Dan, tak ada masalah dengan bentuk alisku. Alisku baik-baik saja. See??

Comments (1)

kompromi dan kedewasaan

Baru-baru ini ngobrol dengan Ard, sahabat terbaikku. Saat membahas kondisi yang aku (kami) alami saat ini, Ard bilang there’s two way to solve it. Yang pertama adalah dengan mengakui secara terbuka di hadapan seluruh keluarga apa-apa yang sebenarnya aku dan kami rasakan. Resikonya, akan ada konflik terbuka, tidak saja dengan orang tuaku, tapi juga dengan seluruh keluarga besar. Implikasinya, aku akan dianggap anak kurangajar, durhaka mungkin, keretakan dan pemutusan  hubungan keluarga. Tapi setidaknya, tak perlu ada lagi saat-saat memendam perasan dan sakit hati, tak ada lagi menahan diri demi menyenangkan satu sama lain, tak ada lagi sikap-sikap semu dan topeng keceriaan. Semuanya akan berubah. Semua kestabilan semu ini, semua perasaan menekan yang meski tak dikatakan tapi saling kami rasakan, akan menghilang.

Yang kedua, kompromi. Caranya, dengan mengubah caraku berpikir, mengubah caraku memandang pesoalan dan sikap-sikap mereka. Karena sepertinya tak mungkin menunggu mereka berubah pikiran. A King, will always feel as a King. Resikonya, aku harus banyak mengalah, lebih banyak bersabar, lebih banyak diam, dan ada kemungkinan dengan mengalah, kondisi ketidakberdayaan ini akan terus berjalan sepanjang hidupku. Aku akan terus menerus merasakan kepenatan ini. Sisi baiknya, mengurangi konflik, menjaga hubungan dengan keluarga, kestabilan terjaga, dan perasaan mereka pun terlindungi. Aku pun akan dapat menghindar dari melukai hati mereka, seperti yang seorang anak harusnya lakukan.

Seandainya aku dapat menjadi kurang ajar, seandainya aku tidak mau menjadi dewasa, seandainya tidak apa bagiku menyakiti orang lain, seandainya tidak menakutkan untuk mengahdapi mereka, untuk menerima cacian, menerima bentakan, menerima sumpah-sumpah, menerima perasaan yang mereka sampaikan kepadaku, aku akan baik-baik saja…aku tak perlu memilih…

Saat ini, saat untuk melihat kembali. Apa saja yang sebenarnya sudah kujalani bersama mereka?  Mana yang sebaiknya kulakukan?  Jalan mana yang berani untuk kuambil?  Mana yang harus kudahulukan?

Saat itu aku menerima pilihan yang kedua. Kompromi. Ubah cara pandang. Aku mencoba untuk mengkritik diriku sendiri. Betapa aku keras kepala (seperti yang dibilang Ard), betapa pikiranku juga buntu. Aku mengatakan mereka buntu dan keras kepala, dan ternyata aku melakukan hal yang sama. Seburuk apapun aku memandang apa yang mereka lakukan dan inginkan dariku, aku tak bisa menutup mata terhadap komponen yang sebenarnya tak pernah lepas dari diri mereka, kasih sayang.

Mereka sayang padaku. Aku tahu itu. Mereka mencintaiku. Aku tahu itu. Aku menyayangi mereka. Aku tahu itu. Aku menyayangi mereka. Aku tahu itu. Tahukah mereka soal itu? Tahukah mereka bahwa aku mengetahui bahwa mereka mencintaiku? Tahukah mereka bahwa aku mencintai mereka? Lalu kenapa kami terus dan terus saling menyakiti?

Kupikir, ada hal-hal yang memang harus kita terima, like it or not. Namun, ada juga hal-hal yang jika kita percaya itu merugikan jauh lebih besar, ya jangan dilakukan. Persoalannya adalah perbedaan cara pandang itu. Mana yang merugikan, mana tidak. Inilah yang berbeda dari diriku dan mereka, cara pandang ini.

Aku tidak harus menerima semua cara pandang mereka, sama seperti mereka punya hak untuk menolak cara pandangku dan membela cara pandang mereka. Mungkin, saat aku menunjukkan pengertian terhadap mereka, mereka akan lebih dapat menerima diriku. Semoga.

Maka aku akan kompromi. Ini juga salah satu sikap untuk tidak mementingkan diri sendiri. Bukankah aku sudah cukup egois, sudah cukup menerima banyak hal? Kupikir, ini hanyalah salah satu dari hal-hal di dunia ini yang memang perlu kita lepaskan, kita korbankan. Akan selalu ada kebahagiaan lain yang datang. Aku mungkin tak bisa rengkuh semua, tapi setidaknya, ada hal yang bisa kulakukan, ada balas budi yang bisa kuberikan…

Mungkin juga ini satu langkah "pendewasaan"…apapun artinya ini….

Comments (4)

ternyata aku salah…

Ketika sesaat lagi aku pikir semua akan baik-baik saja
Ketika kupikir tirai kelabu itu akan tersingkap
Ketika kupikir hidup ini juga berisi matahari,
Ketika kupikir sesak yang ada akan menghilang,
ternyata aku salah

Aku sangat menyesali kondisi yang aku dan keluargaku alami
Kami sangat tidak cocok. Perkelahian dan adu mulut adalah santapan sehari-hari
Tapi aku tidak ingin hal ini, aku tidak menginginkan rasa berat dan kepenatan ini
aku tidak ingin ada yang merasa sakit, terlebih diriku sendiri

Aku tidak bisa memenuhi keinginan mereka. aku kasihan, dan sayang sekali pada mereka
tapi aku sendiri tidak sangggup jika harus memenuhi segala yang mereka inginkan dan mengikuti jalan pikiran mereka
Segala yang kusukai, tidak mereka terima. Bagi mereka, aku aneh dan aneh dan aneh dan menyusahkan

Apa-apa yang mereka sukai, tidak aku senangi. Aku selalu berusaha menghindar dari apa yang mereka suka, karena aku tidak suka
Bagiku, apa yang mereka sukai itu jahat, tidak sensitif, pemborosan, dan melelahkan

Selama aku tinggal bersama mereka, yang paling berkesan adalah rasa sakit yang mereka timbulkan, Saat rasa sakit dari masa kecilku belum sembuh, mereka terus menempanya dengan rasa sakit yang baru. Dulu, aku masih sering kecewa terhadap mereka, tetapi sekarang tidak lagi. Aku telah kehilangan ekspektasi. Aku membenci mereka.

Bagaimana? Bagaimana bicara pada mereka? Bagaimana membuat mereka mengerti dan jelas mengenai apa yang kupikirkan, mengenai seperti apa aku melihat dunia ini? Mereka terus memaksakan pandangan mereka kepadaku, aku tidak bisa!!! Tidak bisa!!!!!

Aku punya pikirnaku sendiri. Aku seorang manusia, bukan cuma anak mereka! Aku MANUSIA!!! Tidak bisakah mereka menghargai itu sedikit saja? Jangan memaklumi, jangan memperlakukanku seperti anak kemarin sore, aku berhak untuk dihargai, aku berhak untuk didengarkan apa-apa yang menajadi pandanganku. Aku ini SESEORANG!!!

Kalau seperti ini terus, bagaimana aku jadi tidak membenci mereka? Aku bukan seorang malaikat. Aku berhak merasa sedih dan sakit saat aku merasa disakiti. Mereka bahkan melarangku untuk merasa sakit saat aku disakiti. Dahulu aku sering menangis diam-diam setelah mereka menyakitiku. Aku terbiasa menangis tertahan, dan sesenggukan sambil menutupi wajahku dengan bantal.

Sampai sekarang pun masih.

Sebab kalau mereka tahu, mereka akan semakin marah, semakin menumpahkan rasa benci padaku, menumpahkan segala emosi jahat yang menyesakkan. Perasaan yang sampai sekarang membuat aku sedih, khawatir, gelisah, dan takut saat bersama mereka. Aku sebenarnya ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa aku sangat membenci mereka, karena mereka sering menyakiti aku.

Aku sedih, lelah, marah benci…

Comments (3)