tubuhku
Ada yang pernah bilang, alis mataku itu bentuknya menurun. Maka harus dibentuk agar terlihat lebih naik, agar terlihat lebih tegas, karena alis menurun menunjukkan bahwa orang tersebut tidak punya kemauan. Ini, sebenarnya jawabanku untuk orang tersebut waktu aku menolak untuk mencukur alisku sendiri. Aku merasa tak ada masalah dengan alisku. Alisku baik-baik saja. Aku tidak melihatnya menurun. Aku bahkan cenderung menyukainya. Sama seperti aku menyukai kulitku yang coklat sawo matang, sama seperti aku menyukai paha dan perutku yang gendut, sama seperti aku menyukai bekas guratan di dahiku yang terbentuk akibat kecelakaan saat main mini basket. Bagiku, tak ada masalah dengan semua itu.
Tubuh (penampilan) bagi sebagian orang memang menjadi masalah yang penting. Bagiku juga. Hanya saja, seperti apa kita mementingkan tubuh (penampilan), itu yang berbeda. Saat aku masih kecil, aku tidak suka makan. Maka, orangtuaku secara rutin memberikan (bahkan memaksakan) obat nafsu makan agar aku mau makan. Hasilnya, aku menjadi amat suka makan! Bahkan sampai sekarang ^_^
Mungkin, waat itu aku belum mengerti dan belum menyadari ‘tubuh’ itu apa. Saat teman-teman masa kecilku mengejek aku gendut, aku tidak mengerti. bukan, bukan gendutnya yang aku tidak mengerti. Yang tidak aku mengerti adalah mengapa mereka menggunakan itu sebagai bahan ejekan. Maka, aku cuek saja.
Semakin dewasa, aku baru memahami ejekan gendut dimaksudkan untuk mengatakan bahwa "kau jelek". Jadi, karena aku gendut, berarti aku jelek. Dan kenapa mereka mengejek orang yang jelek? Memangnya ada apa dengan orang jelek? Apa mereka tidak suka dengan orang jelek? Jelek ternyata, diartikan sama dengan buruk. Saat diejek gendut, aku tidak apa-apa. Saat diejek jelek, aku juga tidak apa-apa. Tapi saat dibilang aku buruk, aku bersedih. Buruk, bagiku adalah saat kau melakukan hal yang tidak sepantasnya seperti menyakiti orang lain. Buruk bagiku sama dengan jahat.
Lalu, apakah karena gendut berarti aku jahat? Apakah karena aku jelek aku ini jahat? Apakah aku menyakiti orang lain hanya karena aku gendut? Bagaimana sebuah penampilan bisa menjahati dan menyakiti orang lain? Seiring waktu, aku menyadari, saat seseorang diejek jelek, bukan dia yang menyakiti orang lain, tapi orang lainlah yang menyakitinya. Maka, sesungguhnya aku lah yang disakiti.
Tapi syukur, meski mengalami periode low self-confident, masa ini tidak berpengaruh banyak dalam hidupku. Memang, cara pandang perlu diubah. If you believe that you don’t need to feel sorry about your body, that God has given everything that is good for you (job, parents, mate, house, etc), then why grundle?
I thought that by time, people will eventually see something from the essence, from the use, from the benefit, from the function and from why it is needed. But, this thing probably depends on how people are nurtured by their surrounding. Ini masalah pola pikir. Masalahnya, hitam=jahat, putih=baik, kurus=cantik, jelek=jahat sudah menjadi pola pikir yang melembaga.
Kupikir, tak ada masalah dengan tubuh yang gendut (kecuali kamu butuh kain yang lebih luas, baju ukuran lebih besar, ruangan yang lebih lega, etc), tak ada masalah dengan jelek (ya jangan maksa jadi bintang iklan atau film). Dan, tak ada masalah dengan bentuk alisku. Alisku baik-baik saja. See??